Kau masih idolaku

Tak banyak yang berubah dari rumah itu setelah 11 tahun 2 bulan aku tinggalkan untuk menempuh hidup baru. Hanya kolam lele seluas 40 cm x 160 cm yang ada di samping teras. Begitu juga dengan ruang tamu kecuali ornamen buatan tangan sendiri di lengkungan pintu menuju ruang makan.

Melangkah menapaki ruang yang penuh kenangan selama 20 tahun seakan mengarungi ruang dan waktu. Samar namun jelas bagaimana aku melalui masa penuh kenangan di rumah itu. Bagaimana aku tumbuh dewasa hingga kenangan terakhir akan almarhumah ibu. Namun bukan itu tujuanku datang hari itu, bukan untuk mengenang memori lama, bukan untuk melihat berapa banyak perubahan yang sudah terjadi. Tetapi datang untuk berkeluh kesah, bercerita tentang kenyataan pahit, bercerita tentang ketololanku, bercerita tentang kesedihanku dan berharap ada yang mau menerima tumpahan penyesalanku.

Adalah lelaki paruh baya yang masih tampak tegar. Tegar ditempa kehidupan, didera pahitnya kehidupan hingga tampak gurat kehidupan di wajahnya. Wajah yang tidak banyak berubah kecuali makin banyaknya rambut yang memutih.

Dialah yang kuharapkan bisa membuat lapangnya hatiku, dialah yang kuharap bisa sedikit mengurangi bebanku. Namun kenyataan yang kuterima tidak seperti yang kuharapkan. Dingin dan penuh dengan kekecewaan yang kudapati. Wajar dan aku juga sudah siap akan kenyataan ini, walau sedikit ada rasa tak berharga.

Tak banyak rangkaian kata yang terucap, tak banyak kalimat bijak yang biasa kudengar terlontar, melainkan hela nafas kekecewaan. Terlebih saat tahu berapa besar masalah yang aku hadapi. Diam dan menyalahkan bagaimana aku bisa setolol itu.

“Ya sudahlah, ayah tidak bisa membantu banyak apalagi saat ini. Kakakmu juga sama, apalagi dia juga harus menghidupi keluarganya. Jadikan ini sebagai pelajaran, gunakan sedikit waktu untuk berpikir langkah ke depan dan luangkan lebih banyak waktu untuk meminta ampun dari-Nya.”

Barisan kata penutup yang harus kuterima dengan lapang dada. Putus asa aku tinggalkan rumah itu, bingung tak tahu kemana lagi harus meminta. Dengan langkah gontai kumelangkah ke sepeda motor dan memacunya bersama angin ke rumah kontrakan.

Terngiang kalimat terakhir yang baru saja kudengar, “….. lebih banyak waktu untuk meminta ampun dari-Nya”. Ya,… siapa lagi yang bisa membantuku kecuali DIA. Tak ada tempat meminta selain kepada-Nya, tak ada tempat mengadu selain kepada-Nya, dan DIA adalah Yang Maha Mengetahui akan segala permasalahan.

Ayah, terima kasih atas nasehatmu. Maafkan aku yang telah berburuk sangka kepadamu, yang telah menganggap kau melupakan aku, tidak mau membantuku. Ternyata, sungguh teramat besar bantuan yang kau berikan. Kau telah merobohkan pintu hatiku yang telah membatu. Tak ada yang bisa aku berikan sebagai gantinya, hanya sebaris kata “Kau masih idolaku

Untuk penghargaan bagaimana berjasanya seorang ayah kepada putranya yang tersesat.

Iklan

4 responses to “Kau masih idolaku

  1. Wheh, lha kok tumben ya bikin postingan jenis ini? Muncul2 langsung cerita soal ayah, Mas.

    Saya menikmati ceritanya. Eh, punya kolam ikan ya di rumah? Ajak mancing dong.

    • rumah baru, suasana baru, postingannya juga baru mbak …
      mau mancing ? kolam cuma 1 meter persegi mau buat mancing, lagian gak bakalan tega deh liat lelenya yang udah segede lengan orang dewasa 🙂

  2. kata yang terakhir lebih berarti dari apapun mas, memohon bantuanNya
    sekuat apapun kita, sekuat apapun yang lain tanpa ijinNya tidak bisa berbuat apa
    semoga masalah segere mendapatkan jalan terang dengan Pertolongan-Nya

    • betul mas, hanya pada-Nya kita akan kembali, memiliki arti yang sangat luas, bukan cuma persoalan mati … persoalan hidup juga akan kembali pada-Nya dan cuma Dia yang berkehendak …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s