Kenapa harus bebek ?

Sebuah pertanyaan sederhana tapi sarat dengan makna. Kenapa harus bebek ? Dari kata tanya yang dipakai saja sudah mengandung sejuta pertanyaan. Kenapa ? Mengapa ? Apa tidak ada yang lain ? de-es-be …

Jawabnya sebenarnya sangat singkat. ” Sudah jadi keputusan saya, jadi tidak usah tanya macam-macam “. Singkat, padat, jelas. Bisa diartikan, ini urusan saya, ngapain situ ikut campur. Tapi tidak buat saya. Semua berhak tahu apa alasannya mengapa saya memilih bebek bukan ayam bukan kucing atau yang lain.

Semua didasarkan oleh penelitian. Wah, gayanya ……

Tapi benar dong, setiap ingin melakukan atau memulai sebuah perkerjaan terlebih yang menyangkut hajat hidup orang banyak harus pakai penelitian. Perlu pengkajian, perlu sebuah pertimbangan jangan sampai keputusan yang diambil justru akan membawa akibat yang tidak baik. Bisa-bisa nanti malah kena demo.

Kembali ke permasalahan kenapa harus memilih bebek. Berdasarkan analisa yang boleh dikatakan sedikit sembarangan tetapi penuh dengan pertimbangan, ada 2 alasan utama, yaitu :

1. Persaingan

Melihat jumlah usaha, gerai atau restro yang mengunakan bebek sebagai bahan bakunya, saat ini masih tergolong sedikit jika dibandingkan dengan ayam atau yang lain.

Terlebih di lokasi dimana saya buka warung. Dalam radius 2 km, tercatat hanya 3 kedai/rumah makan yang mengkhususkan dirinya dengan bebek. Plus, sepanjang perjalanan saya dari rumah ke warung, sekitar 1 km, hanya ada 1 pesaing. Jika dibandingkan dengan pecel lele/ayam yang mencapai 7 tenda, dan 1 warung ayam bakar, belum lagi 3 gerobak ayam bakar.

Itu hanya lewat 1 rute jalan yang biasa saya lalui, bagaimana dengan rute lain ? Jumlahnya pasti bertambah.

2. Pengolahan

Untuk mengolah seekor bebek menjadi panganan siap saji itu sangat mudah. Tidak dibutuhkan ketrampilan khusus, yang ada hanya racikan dan komposisi yang pas.

Cukup di ungkep (masak dengan bumbu) kemudian di goreng dan disajikan bersama sambal serta pelengkap lain seperti lalapan, tempe dan tahu goreng. Dan kesemua makanan tadi cuma membutuhkan 1 buah penggorengan.

Mau ditambah menu ayam goreng, prosesnya juga sama. Jadi tidak perlu neko-neko. Cuma perlu waktu yang sedikit lebih lama dalam proses persiapan sebelum siap masak.

Tentunya disamping mempertimbangkan faktor kemudahan dan peluang, tentunya juga harus dipikirkan faktor kesulitannya. Selain mendapatkan komposisi bumbu yang pas, juga faktor suply bahan baku alias bebek-nya. Hal ini bisa disiasati (untuk memulai) dengan meloby penjual bebek di pasar. Seperti yang saya lakukan, saya bilang butuh setidaknya 1 ekor sebagai permulaan tiap hari dengan ukuran besar yang tetap dan harga yang tetap. Akhirnya, bisa diatasi dan yang pada awalnya setiap pesan harus datang ke pasar kini tinggal sms dan esoknya bebek sudah siap.

Jadi kenapa harus bebek ? Silahkan anda ambil kesimpulan sendiri dari uraian diatas. Walaupun sampai saat ini kondisi belum stabil, tetapi dengan selalu berpikir positif, pasti akan berhasil. Hanya memang belum waktunya.

Apa tidak berpikir akan mengembangkan atau menambah sesuatu yang lain ? Pasti …!

Selalu berpikir kreatif. Saya belum puas dengan kondisi saat ini dan ingin membuat sesuatu yang berbeda. Entah itu konsep penyajian atau bahkan variasi menu baru. Bahkan lebih radikal lagi menambah menu atau panganan lain selain bebek dan ayam. Karena proses itu tidak boleh berhenti disini.

Itulah sedikit share alasannya kenapa harus bebek , semoga bisa menjadi inspirasi …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s